Monday, 22 April 2019

HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

Oleh: Ino Sengkoen
sumber gambar di ambil dari
https://titintrisnawati73.wordpress.com

Barangkali waktu memang kejam membangun tembok jarak ketika ada yang akan pergi dan ada harus yang tertinggal. Satu-satunya sarana untuk memanjati tembok itu adalah kenangan. Dan tangga kenangan adalah sesuatu yang rapuh. Orang mudah terjatuh, entah pada sakitnya romantisme yang tak dapat diulang kembali ataukah ketegasan masa depan yang mesti disongsong tanpa bisa dielak. Tetapi hujan bulan November yang menumbuhkan merah pada pucuk-pucuk pohon flamboyan selalu terasa manis membahasakan pengharapan.

“Kapan kak mau pulang?”
“Setelah semua urusan ini selesai, Nona.”
“Kalau tidak ada urusan yang tertinggal, berarti kak sonde akan datang lagi.”
Wajah perempuan itu dipalingkan dari posisi semula dengan sedikit pahatan cemberut. Namun Merkurius paham, gelagat seperti itu adalah tanda sedang ingin dimanja. Maka dia balas kecemberutan itu dengan senyum. Tangan kanannya dilayangkan dan mendarat lembut pada kepala perempuan yang duduk di sampingnya itu. Dengan sedikit tekanan, dia goyangkan kepala perempuan itu. Rupanya benar, perempuan memang adalah makhluk yang pandai menciptakan paradoks.
Seperti biasanya, suasana di sekitaran Taman Krida ramai. Tukang parkir sibuk merapikan motor yang ditinggal begitu saja oleh pengemudinya. Hampir tidak ada pemilik jualan kali lima yang menganggur. Entah berapa banyak rombongan pengamen yang lalu lalang. Malam minggu seperti ini, Jalan Sukarno-Hata adalah tempat nongkrong yang seru. Kau bisa saksikan dengan jelas bagaimana warga kota ini menumpahkan penat kerja selama seminggu di berbagai lesehan yang terhampar di sana. Orang ingin merasakan malam yang tanpa beban pekerjaan dan menikmati betapa hidup menyediakan banyak ruang dan waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak berkaitan dengan tugas-tugas kantoran ataupun perkuliahan.
Dan tepat berhadapan dengan gerbang masuk Rumah Sakit UB, tangan kanan Merkurius membelai rambut perempuan itu, setelah sebelumnya kepala perempuan itu digoyang-goyangkannya dengan manis.
“Nona tahu planet Merkurius? Merkurius itu planet yang paling dekat dengan matahari. Saking dekatnya, untuk berputar keliling matahari, Merkurius hanya butuh delapan puluh delapan hari. Coba bandingkan dengan bumi. Kau matahari.”
Perempuan itu memejamkan matanya. Dia tahu benar laki-laki yang sedang membelai rambutnya ini adalah seorang pembaca yang tekun. Karena itu dia punya wawasan yang luas. Ketika pertama kali berkenalan dan perempuan itu mulai merasakan ada perasaan yang menyelip masuk dari jabatan tangan dan tatapan Merkurius, ia telah banyak mencoba mencari-cari arti nama yang aneh itu. Dalam salah satu bacaan dia temukan bahwa Merkurius adalah nama salah satu Dewa orang Romawi, yang menjadi pelindung urusan keuangan, perdagangan dan puisi. Di tempat lain, dia dapati informasi bahwa nama planet ini pernah disebut orang Yunani sebagai Herme, seperti nama tokoh dalam mitologi Yunani yang menjadi penafsir pesan dan komunikator antara para dewa dan manusia. Dan perempuan itu paham betul, laki-laki yang sedang membelai rambutnya ini mewarisi kekayaan arti nama-nama itu dalam dirinya.
“Kemarin UTS bagaimana?”
“Aman kak. Sisa satu tugas yang belum saya kumpul. Enak e, macam kak yang sudah wisuda begini.”
Merkurius baru saja diwisuda sebagai seorang sarjana teknik dari kampus Widyagama. Barangkali hanya ini satu-satunya keganjilan Merukrius. Seharusnya dia mengambil jurusan ekonomi, sastra atau geografi, sesuai namanya. Namun pembangunan di kotanya di Nusa Tenggara Timur sana masih butuh banyak sarjana di bidang teknik. Ekonomi itu ilmu orang-orang yang peduli pada urusan uang, sastra diminati mereka yang memuja imajinasi sebagai pemantik perubahan, sementara geografi adalah ilmu yang tidak cukup hanya dipelajari selama empat tahun di bangku perkuliahan. Sudah lama Merkurius mahfum bahwa menjadi berguna lebih mulia daripada menjadi berhasil. Jika kau berhasil, dunia berpihak padamu, namun saat kau berguna, kaulah yang berpihak pada dunia. Merkurius memilih yang kedua. Teknik adalah jalan untuk berpihak pada dunia, paling kurang di daerah asalnya.
“Kau juga nanti sampai di titik itu. Tetap semangat e, Nona.”
“Bagaimana saya bisa tetap semangat pas kak sonde ada dekat saya?”
“Hee, sejak kapan kau jadi lemah begini?”
Air mata menetes di pipi perempuan itu. Merkurius lebih peduli pada kalimat yang sementara disusun di kepalanya untuk melanjutkan pertanyaan retorisnya tadi.
“Sejak awal saya sudah bilang, ada dua tipe perempuan yang paling saya benci. Pertama, yang suka foya-foya. Kedua, yang mudah menyerah.”
Perempuan itu menundukkan kepalanya. Air matanya terus berderai.
“Kau tidak akan bisa jadi istri dan ibu yang baik kalau kau suka hidup foya-foya atau mudah menyerah. Perempuan sudah ditakdirkan untuk lahirkan kehidupan dengan cara mempertaruhkan nyawanya sendiri. Saya tidak pacari kau tanpa rancangan tentang bagaimana kita pung hidup di masa depan dalam saya pung kepala.”
“Sudah kak. Cukup.”
Perempuan itu merebahkan kepalanya pada dada Merkurius. Dipeluknya erat laki-laki yang akan segera menginggalkannya untuk pulang dan menantinya di kampung halaman. Tangisannya kali ini diringi erangan yang perih. Sakit.
Semua kenangan tentang Merkurius menyesaki kepala perempuan itu. Dia ingat betul simpatinya pada Merkurius berawal ketika menyaksikan kedewasaan dan kegigihan laki-laki itu untuk memperjuangkan apa yang menurutnya baik dan benar untuk organisasi mahasiswa kedaerahan mereka di kota ini. Laki-laki ini disegani karena kebenarannya dan disenangi karena kebaikannya. Dia seperti revelasi sempurna dari pepatah keras dalam prinsip namun halus dalam cara. Bahkan ketika menghadapi getir hidup saat kematian merenggut ayahnya kembali ke pangkuan surga setahun yang lalu, Merkurius rapi menyembunyikan kesedihannya sekedar untuk menunjukkan bahwa hidup menyediakan terlalu banyak hal untuk disyukuri daripada disesalkan. Kesedihan mesti menjadi motivasi perjuangan.
“Kak, jangan kasi tinggal saya.”
Merkurius tidak menjawab. Dipeluknya erat perempuan yang menangis di dadanya. Bibirnya ditempelkan pada kepala perempuan itu. Ada kalanya perempuan melontarkan pernyataan atau pertanyaan tidak untuk meminta jawaban. Dan hal sesederhana itu sudah dipahami secara amat baik oleh Merkurius. Hidupnya banyak dikelilingi perempuan-perempuan yang mencintainya dengan tulus, mulai dari ibu dan saudari-sadarinya serta teman-teman yang selalu mendukungnya. Sebagai lelaki, dia paham banyak rahasia perempuan.
“Kau matahari, Nona. Merkurius terbentuk dari nebula matahari.”
“Tetap dekat dengan saya e kak.”
“Saling memunggungi bukan berarti tidak saling mendoakan. Dalam doa yang berbeda kisa sama-sama saling sebut nama, Nona. Setiap hari kita akan ketemu di amin yang sama dari doa-doa yang berbeda itu.”
“Kak yakin saya bisa?”
“Dulu manusia dan malaikat sama-sama bisa terbang, hanya kemudian manusia merasa diri berat dan tidak bisa terbang lagi. Saat di Paralayang setelah kau foto di rangka sayap malaikat saya sudah cerita toh, Nona.”
Perempuan itu mencukupkan tanya yang ragu-ragu. Mendapati rentetan jawaban tidak langsung yang butuh pemaknaan lanjutan seperti itu membuatnya yakin betapa besar kepercayaan Merkurius pada dirinya dan kepada Tuhan yang selalu melindunginya. Di gereja Blimbing, Merkurius membakthikan diri menjadi pengurus kapela di sela-sela kegiatan kampusnya. Dia pendoa yang tekun.
“Percuma saya menangis. Kak tetap jalan ju.”
Perempuan itu menarik kepala dan wajahnya dari pelukan Merkurius. Dia seka lajur air mata yang membekas di pipi dengan kedua tangannya. Napasnya tebal dan basah. Dia perbaiki baju dan duduknya.
“Kak su siap sambutan untuk acara pelantikan nanti?”
“Saya tidak mau bicara banyak lagi, Nona. Ini giliran pengurus baru. Saya yakin akan semakin baik ke depannya. Banyak orang tua kita di sini yang peduli dan bergerak untuk dukung kita. Itu harga mahal dan kita harus balas dengan kerja keras juga.”
“Kalau sebelumnya seperti sekarang, saya yakin kondisinya tidak seperti ini.”
“Segala sesuatu sudah diatur untuk terjadi pada waktunya, Nona.”
Pembahasan itu terganggu oleh hujan yang mulai perlahan membasahi. Hujan luruh dari langit Kota Malang malam itu, memaksa gerakan yang tergesa-gesa. Merkurius menudungi kepala perempuan itu dengan jaketnya. Diajaknya perempuan itu berdiri untuk bergegas pergi. Di bawah tudungan Merkurius dan hujan yang jatuh satu-satu, perempuan itu mengecup bibir lelaki yang akan segera meninggalkannya itu.
“Terima kasih, Nona.”
“Tetap jadi Merkurius yang dekat dengan matahari e kak.”
Perempuan itu tersenyum, ketika air mata menetes lagi dari pipinya. Kali ini Merkurius tak mampu lagi membendung air mata. Maka di bahwa hujan yang luruh dari langit Kota Malang, kedua insan pencinta itu meruntuhkan air mata. Antara haru, sedih, bangga dan bahagia bercampur jadi satu. Mereka percaya bahwa air mata yang berderai itu mengalir dari mata air surga.
Perjalanan pulang menyusuri Jalan Sukarno-Hatta menuju Blimbing mereka lewati dengan diam. Kabut dari aspal yang menguap menemani mereka, seperti dupa yang dikirimkan bumi kepada surga.

Malang, 26-27 November 2018

Saturday, 6 April 2019

Lelaki Sejati itu Lelaki Humanis

https://faktualnews.co

Lelaki sejati tidak menjelajahi dan tidak singgah di setiap 
selangkangan yang ia temui di sudut-sudut waktu. 
Lelaki sejati adalah mereka yang selalu terlihat sisi 
humanis disetiap pertemuan dan melawan hasrat 
di setiap ada kesempatan. Karena ia sadar wanita 
tidak diciptakan untuk memuaskan hasrat. 
Wanita bukan tempat wisata yang didatangi oleh 
siapa saja dan kapan saja ia mau. 
Tetapi wanita diciptkan dari rusuknya untuk menjadi 
teman hidup sampai maut memisahkan mereka. 
Wanita diciptakan untuk menebar inspirasi baginya 
menemukan arti menelusuri ruang-ruang kehidupan 
yang penuh misteri ini.
 
Malang 5 April 2019
Barros



Hujan, Sepi dan Rindu


Hujan sore ini, aku tertidur pulas jauh dari sadar.
Tak satupun mimpi yang datang bercerita tentang kamu.
Disini tidak ada siapa-siapa selain aku, gelap, dan sepi
yang terus berbisik kata-kata rindu.
Apa kabar kekasih, kenapa kau menghilang seperti sepi ?
Aku ingin bercerita bahwa disini turun hujan, mereka bercerita
Tentang kita dan kenangan.

Malang 6 April 2019
Barros

Thursday, 4 April 2019

Pemuja Wanita

Kau sangat cantik dan menawan
tidak tahu buah tangan siapa yang
telah memoles mu seindah ini ?
Setiap mata yang melihat mu pasti akan jatuh
dan terpenjara pesona mu.
Maka sangat mahal untuk sekedar
dipermainkan oleh kata-kata manis
yang datang kerena dorongan 
hasrat dan imajinasi liar.

Malang 4 April 2019
Barros